إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،من يهد الله فهو المهتدى ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد؛
Alhamdulillah kita bersyukur ke hadirat Allah, yang mana atas segala rahmat dan izin-Nya kita masih bisa menikmati segala pemberian dari-Nya Semoga amalan kita selalu dijadikan sebagai amal shalih. Amin.
Manusia sejak lahir sudah mempunyai kebutuhan hidup, baik makanan, minuman atau kebutuhan yang lainnya. Untuk meraih kebutuhan hidupnya, Allah telah memberikan berbagai petunjuk, yaitu;
Pertama; Hidayatul-Wijdân; yaitu hidayah yang berupa naluri atau insting, seperti halnya bayi bisa menangis atau senyum. Menangis adalah tanda bahwa anak itu sakit dan dengan menangis dapat memudahkan ibu untuk memenuhi kebutuhannya. Jika bayi menangis, ibu langsung menyusuinya dan jika tidak mau dan terus menangis, itu berarti ada rasa sakit yang dideritanya dan kemudian dibawa ke dokter. Bayi menangis di malam hari, itu tandanya ngompol, kemudian ibu langsung menggantikan pakaiannya.
Kalau kita bertanya, siapakah yang mengajarkan menangis kepada bayi? Darimana ia bisa menangis dan mengapa ia menangis? Jawabnya, karena Allah telah memberikan hidayah wijdan (naluri) kepada bayi tanpa melalui didikan seorang guru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya seorang ibu mengurus anaknya kalau tidak diberikan naluri seperti itu. Ditanya belum dapat menjawab, meminta langsung juga belum bisa berbicara.
Itulah hidâyatul-wijdân yang Allah berikan kepada bayi. Dan hidayah ini bukan saja untuk manusia, tetapi hewan pun sama diberikan insting. Seperti halnya ayam mengerami telurnya selama 21 hari, siapakah yang menyuruh atau membujuk ayam untuk mengerami telurnya, atau siapakah yang menyuruh kura-kura untuk mengubur telurnya, siapakah yang mengajar laba-laba untuk membuat rumahnya? Itu semua adalah hidayah dari Allah yang berupa insting.
Kedua; Hidayatul-Hawâs; yaitu hidayah yang berupa indera yang lima. Dengan tangan orang mampu memilih kebutuhan hidupnya, orang dapat memilih barang yang halus atau yang kasar. Dengan mata orang dapat memilih warna, rupa atau wajah seseorang. Dengan lidah orang dapat memilih makanan yang lezat atau yang tidak. Dengan hidung orang dapat memilih, mana yang harum dan mana yang bau busuk. Dengan telinga orang dapat membedakan mana suara binatang, mana suara manusia dan siapa yang memanggilnya?
Indera yang lima ini dengan berbagai fungsinya adalah anugerah dari Allah yang besar untuk meraih kebutuhan hidupnya, memilih segala kebutuhannya, mana yang baik dan mana yang jelek. Dapat kita bayangkan orang yang sudah mati rasa tidak dapat menikmati makanan mana yang lezat, mana yang tidak. Tentu saja sudah hilang perangsang untuk makan.
Ketiga; Hidayatul-‘Aqli; yaitu petunjuk yang diperoleh lewat pilihan akal. Indera lidah dapat memilih makanan yang lezat atau yang tidak, tetapi tidak bisa memilih mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Orang yang menderita diabet terpaksa harus mengurangi makanan atau minuman yang manis-manis. Hal itu adalah berdasarkan petunjuk akal, bukan petunjuk lidah karena kalau menurut lidah, itu adalah makanan yang enak.
Inilah kelemahan petunjuk indera, hanya dapat memilih yang enak dan tidak, tetapi tidak bisa memilih mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan. Allah hanya memberikan dua hidayah saja kepada binatang, yaitu insting dan indera tapi tidak diberikan akal untuk dapat mengembangkan kemampuannya. Dapat dipastikan kalau binatang diberikan akal, manusia pasti kalah bersaing dengan binatang. Andai binatang buas memiliki akal, sudah pasti manusia akan kalah bersaing. Tetapi dengan tidak diberikan akal, ternyata binatang buas pun dapat ditundukkan oleh manusia.
Di samping itu juga, manusia dengan akalnya mampu meningkatkan taraf hidupnya atau mengembangkan teknologinya. Manusia dengan akalnya mampu menginjakkan kakinya di bulan, menyeberangi samudera yang luas, menyelam ke dasar laut, dapat berkomunikasi langsung dengan orang yang ada di luar negeri dengan teknologi internetnya, dan lain sebagainya.
Siapakah yang telah menciptakan akal dengan segala kemampuannya, bagaimana dapat menyerap ilmu yang banyak? Siapakah yang menciptakan otak kiri dan otak kanan dengan fungsi yang berbeda? Mengapa otak binatang tidak dapat digunakan untuk berpikir, padahal binatang
juga sama diberikan otak? Itulah anugerah Allah yang besar untuk manusia. Seharusnyalah manusia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan anugerah akal yang begitu besar.
Keempat; Hidâyatud-Din; yaitu petunjuk agama berdasarkan wahyu dari Allah untuk kesempurnaan hidup manusia. Karena dengan petunjuk akal, manusia hanya mampu mengkonsumsi kebutuhan fisik jasmani, sementara kebutuhan rohani tidak dapat dipenuhinya. Manusia ingin hidup bahagia, tenang, tenteram dan penuh rasa aman. Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi dengan akal atau materi. Kenyataannya orang bertambah kaya justru bertambah takut, bertambah tinggi pangkat dan jabatan bukan bertambah aman, malahan bertambah takut, cemas dan gelisah. Maka untuk meraih kebahagiaan, tidak ada lagi resepnya kecuali dengan hidayatud-dîn. Allah telah menjamin dalam salah satu firman-Nya:
… فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“…maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. al-Baqarah: 38)
Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dijamin tidak akan merasa takut yang berlebihan atau sedih yang berkepanjangan. Kedua sifat ini cukup mengganggu ketenangan dan ketenteraman batin.
Sebagai contoh, Nabi dan para shahabatnya tidak kurang mendapatkan ancaman, teror dan tekanan, tetapi mereka cukup mengatasinya dengan berserah diri kepada Allah dengan keyakinan;
قل أن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا هو مولينا وعلى الله فليتوكل المؤمنون
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Q.S. al-Taubah: 51)
Ayat ini cukup menenangkan kita karena Allah-lah yang menentukan segala-galanya. Manusia bisa saja berencana tetapi mereka tidak akan dapat mendahului kehendak-Nya. Demikian juga dalam salah satu hadits, Nabi dinyatakan gemuk dan sehat karena mampu memelihara kedua telinganya, yaitu informasi yang masuk ke telinga itu kadang menggembirakan, kadang juga menyakitkan. Dalam hal ini Nabi mampu meredam berita-berita yang tidak menyenangkan dan tidak membuat sakit hati atau menegangkan, semuanya diserahkan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Itulah urgensi hidâyatud-dîn untuk kesempurnaan hidup manusia.
Ikhwatu iman rahimakumullah, Allah telah menciptakan manusia dengan postur tubuhnya yang begitu sempurna, Allah tentu lebih tahu kondisi
manusia, lebih tahu watak dan tabi’atnya. Allah juga telah menciptakan ‘buku petunjuk’ untuk manusia, bagaimana seharusnya manusia menjalani hidupnya untuk dapat meraih kebahagiaan yang sempurna.
Al-Qur’an dengan seperangkat petunjuknya telah Allah ciptakan untuk dijadikan way of life; jalan hidup, yang pasti akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Segala petunjuk yang ada dalam al-Qur’an tidak akan memberatkan yang miskin, tidak akan merugikan orang yang kaya, tidak akan merendahkan harkat dan martabat pejabat dan tidak akan mempersulit orang yang sengsara. Allah berfirman;
فأقم وجهك للدين حنيفا فظرت الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rûm: 30)
Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa: (1) Hadapkanlah jiwa ragamu terhadap agama. (2) Agama itu adalah ciptaan Allah yang pasti cocok dengan fithrah manusia. (3) Jangan mencari pengganti agama ciptaan Allah. (4) Itulah agama yang tegak dan lurus yang seharusnya dijadikan pedoman hidup manusia. (5) Tetapi sayangnya kebanyakan manusia tidak tahu hakikat agama.
Kenyataan membuktikan, mana perintah agama yang bertentangan dengan fithrah manusia. Shalat dengan gerakan tertentu ternyata tidak memberatkan manusia, bahkan telah diakui bahwa gerakan shalat itu banyak
pengaruhnya terhadap kesehatan. Zakat dengan wujud mengeluarkan sebahagian harta tidak akan merugikan orang kaya atau pengusaha, justru zakat menjadi keamanan harta sekaligus akan menghilangkan kecemburuan sosial di masyarakat. Shaum juga tidak akan memberatkan aktivitas manusia, justru dengan syari’at shaum banyak pengaruhnya untuk kesehatan fisik. Ibadah haji walau dengan ONH yang besarnya kurang lebih Rp. 44.000.000, ternyata tidak memberatkan. Buktinya, sampai terjadi waiting list, antri sampai 10 tahun untuk dapat pergi menunaikan ibadah haji.
Demikian juga syari’at-syari’at Islam yang lainnya, tidak ada yang merugikan umat bangsa atau negara, bahkan Islamlah yang telah memberikan sumbangan yang besar untuk kehidupan manusia di dunia ini. Seharusnyalah agama Islam itu dipeluk, disambut, karena agama Islam itu ajaran yang membawa rahmatan li al-‘Alamîn.
Mudah-mudahan kita selalu mendapat hidayah dan inayah Nya untuk dapat selalu melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, juga senantiasa selalu bisa mensyukuri akan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita semua sehingga kelak nanti menjadi pengikut Nabi Muhammad saw selaku penghuni surga yang mendapat sebaik-baik balasan di hari akhir.