Mewaspadai Sekulerisme & Liberalisme

Karya : ustadz H. Siddiq Amien

إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتدي ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك بعد: له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله, أما

Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah yang dengan bimbingan inayah, rahmat dan hidayah Nya, kita masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk menjalani hidup dan beribadah kepada Allah SWT Kita semua berharap semoga amal ibadah kita tersebut diterima oleh Allah Swt sebagai ‘amalan shalihan mabruran maqbulan, menjadi wasilah diampuninya segala kealfaan dan dosa kita yang pernah kita lakukan selama ini, dan hari ini kita benar-benar dalam keadaan fithri dalam arti bersih dari dosa. Untuk kemudian kita isi lembaran hidup yang akan masih tersisa dengan prestasi hidup dan amal sholih yang lebih baik, lebih berkualitas. Sehingga kelak di kemudian hari ketika kita dikumpulkan di padang Mahsyar, kita dikumpulkan dalam keadaan lebih bahagia dari pada kebahagiaan kita di dunia ini

Pembaca yang berbahagia,

Rasulullah pernah mengingatkan kita :

يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قضعتها ، قال قائل: ومن قلة نحن يومئذ ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ، ولكنكم غثاء كغثاء السئيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفن الله في قلوبكم الوهن، فقال قائل: يا رسول الله وما الوهن؟ قال: حب الدنيا وكراهية المؤت. ر

أبو داود عن ثوبان

“Hampir tiba dimana banyak bangsa akan mengeroyok kamu (umat Islam), sebagaimana orang-orang mengerubuti makanan dalam satu wadah.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah itu disebabkan kita waktu itu sedikit jumlahnya?” Nabi saw menjawab: “Justru kamu sekalian waktu itu jumlahnya banyak, tapi kondisi kalian (sangat lemah) seperti buih di sungai. Dan sesungguhnya Allah telah menghilangkan rasa takut dari musuh-musuhmu, dan Allah telah menyimpan dalam hati kalian “Al-Wahan”. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah apakah al-wahan itu?” Nabi saw menjawab: “(al-wahan itu) Cinta dunia dan takut mati.” H.r Abu Daud 4: No. 4297 dari Tsauban ra.

Apa yang Rasulullah saw ingatkan sekian ratus tahun yang lalu, saat ini kita menyaksikan dan merasakan kenyataannya. Umat Islam di berbagai belahan dunia telah menjadi sasaran permusuhan bahkan serangan bangsa bangsa lain. Kita lihat Irak dan Afghanistan misalnya yang tercabik-cabik akibat agresi dan arogansi AS dan sekutunya, dengan alasan yang dibuat-buat. War against terorism (perang melawan terorisme) telah bergeser menjadi war against Islam (perang melawan Islam). Ghazwul Fikri (perang pemikiran) dalam rangka menghancurkan Islam

dari dalam juga mereka lakukan dengan massif dan sistemik dengan memanfaatkan penyakit “hubbud dunya” kaum intelektual dan cendekiawan muslim, melalui upaya-upaya sekulerisasi dan liberalisasi Islam.

Sekulerisme secara etimologis berasal dari bahasa Latin Saeculum yang aslinya berarti “zaman sekarang ini” (the present age). Secara terminologis sekulerisme mengacu kepada doktrin atau praktik yang menafikan peran agama dalam fungsi-fungsi Negara. Dalam Webster Dictionary sekulerisme didefinisikan: “A system of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship.” (sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apapun dari keimanan dan upacara keagamaan). Jadi sekulerisme adalah paham pemisahan agama dari kehidupan (fashlud din ‘anil hayat), yakni pemisahan agama dari segala aspek kehidupan, yang dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari Negara dan politik. Agama hanya diakui eksistensinya pada urusan privat atau pribadi saja, hubungan manusia dengan tuhannya. Tapi agama tidak boleh dibawa-bawa ke wilayah publik, yang mengatur hubungan antarmanusia, seperti masalah sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Liberalisme juga berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Sebagai adjektif, kata ‘liberal’ dipakai untuk menunjuk sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent), berpikiran luas lagi terbuka (open-minded). Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan kecenderungan yang berlawanan dengan, dan menentang ‘mati-matian’ sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.

Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi, jika tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan tertentu, liberalisme identik dengan kapitalisme.

Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan.

Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak dan selera masing masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Artinya, konsep amar ma’ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka. Maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengan sekularisme.

Sebagai contoh, dampak buruk dari liberalisasi di bidang sosial budaya bisa kita simak artikel di majalah The Economist edisi 28/2-5/3-2004 yang menyebutkan: United State is the most religious countries in the industrialized world (Amerika adalah Negara paling religius atau agamis di era/dunia industri), 80 persen penduduk Amerika mengaku percaya kepada Tuhan dan 40 persennya mengaku pergi ke gereja setiap minggu. Dalam uang dollar tertulis kalimat: In God We Trust (Kami percaya kepada Tuhan). Namun karena kuatnya sekulerisme, dimana agama itu hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Tuhan, tidak boleh dibawa ke wilayah publik, tidak boleh dicampur aduk dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara, maka budaya yang berkembang adalah budaya hedonistik, konsumeris, narkotikis dan permisit, Sebuah kehidupan yang longgar terhadap nilai-nilai moral dan agama, dimana kesenangan duniawi menjadi tujuan utama. Sehingga tidak heran jika HIV/AIDS Surveilance Report 1/12-2003 menyebutkan bahwa penderita AIDS

yang terdeteksi oleh Departemen Kesehatan AS sampai tahun 2002 sebanyak 886.575 orang dan yang mati karena AIDS sebanyak 501.669 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 60 persen peredaran narkoba di dunia ada di Amerika. Dari sekian banyak kegiatan bisnis AS: senjata, elektronik, pesawat udara, dsb. maka bisnis prostitusi menempati rangking keempat. Surat Kabar Al-Ahram Mesir edisi no. 39713 menginformasikan bahwa di AS tindak kekerasan terjadi tiap 17 detik, pencurian kendaraan tiap 18 detik, pembunuhan terjadi tiap 21 menit, perampokan bersenjata tiap 4 jam, perampokan ke rumah tiap 10 jam. Lebih dari satu juta ABG (12-13 tahun) pertahun menjadi korban pemerkosaan.

Dengan dalih globalisasi, demokratisasi dan penegakan HAM, imperialism culture (imperialisme budaya) dan sekulerisasi telah mewarnai berbagai aspek kehidupan, politik, sosial, ekonomi, budaya dan bahkan agama, dan telah mewabah ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali negara-negara berpenghuni mayoriytas muslim, termasuk Indonesia.

Liberalisasi di bidang politik misalnya, politik dianggap atau dinilai sekedar seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan segala cara. Politik harus dibebaskan dari moralitas, yang penting berkuasa. Demi meraih kekuasaan, berbagai cara kotor dan tidak terpuji pun ditempuhnya. Tipu sana tipu sini, sogok sana sogok sini, bukan soal lagi. Bahkan, jika perlu, teror pun digunakan, demi kekuasaan. Prinsipnya: Raih, rebut dan pertahankan kekuasaan, dengan cara apa pun!

Itulah politik bebas nilai. Sebuah bentuk politik yang secara sistematis diteorikan oleh Niccolo Machiavelli. Politik dibebaskan dari nilai-nilai moral dan agama. Dalam sejarah pemikiran politik, nama Machiavelli memang monumental. Oleh para pemikir di Barat kemudian, karya

Machiaveli, The Prince, dianggap memiliki nilai yang tinggi yang memiliki pengaruh besar dalam sosial politik umat manusia. Sebuah buku berjudul “World Masterpieces” yang diterbitkan oleh WW Norton & Company, New York. tahun 1974 (cetakan kelima) menempatkan karya Machiaveli ini sebagai salah satu karya besar dalam sejarah umat manusia yang muncul di zaman renaissance. Perjalanan hidup Machiavelli sendiri cukup menyedihkan. la pernah ditahan dan disiksa. la dituduh melawan pemerintah Italia sekitar tahun 1495. la menulis The Prince pada umur 44 tahun, dan baru dipublikasikan tahun 1532, lima tahun setelah kematiannya. Machiavelli dianggap sebagai salah satu pemikir yang mengajak penguasa untuk berpikir praktis demi mempertahankan kekuasaannya, dan melepaskan nilai-nilai moral yang justru dapat menjatuhkan kekuasannya. Karena itu, banyak yang memberikan predikat sebagai “amoral”. Tujuan utama dari suatu pemerintahan adalah “survival” (mempertahankan kekuasaan).

Politik semacam itu melampaui nilai-nilai moral keagamaan. Dengan membuang faktor “baik dan buruk” dalam kancah politik, Machiavelli memberikan saran, bahwa seorang penguasa boleh menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan negara. Penguasa-penguasa yang sukses, kata dia, selalu bertentangan dengan pertimbangan moral dan keagamaan. Maka, kata Machiavelli lagi, “Jika situasi menjamin, penguasa dapat melanggar perjanjian dengan negara lain, dan melakukan kekejaman dan terror.” Sejarawan Marvin Perry, mencatat dalam bukunya, Western Civilization: A Brief History, (New York: Houghton Mifflin Company, 1997), bahwa nilai penting dari pemikiran Machiavelli adalah usahanya melepaskan pemikiran politik dari kerangka agama dan meletakkan politik semata-mata urusan ilmuwan politik. “In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend of thought that we recognized as distinctly modern,” tulis Perry. Jadi,

sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan faktor agama dalam politik, dengan memandang masalah politik dan negara, semata-mata sebagai faktor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai politik modern.

Apa yang dilakukan Machiaveli yang kemudian disebut sebagai “politik modern tentu saja tak lepas dari arus besar renaissance (kelahiran kembali) masyarakat Eropa, yang selama hampir 1.000 tahun hidup di bawah sistem politik teokrasi (kekuasaan Tuhan). Tuhan melalui wakilnya di bumi – mendominasi segala aspek kehidupan, termasuk politik. Pemerintahan dianggap tidak sah, jika tidak disahkan oleh wakil Tuhan. Contoh yang menarik terjadi pada konflik antara Paus Gregory VII dan Raja Henry IV pada paruh abad ke-11. Konflik bermula ketika Gregory melarang keterlibatan raja dalam pengangkatan pejabat gereja. Paus berargumen, bahwa konsep Gereja sebagai monarkhi berasal dari tradisi Imperium Romawi. Paus sendiri yang berhak mengangkat dan memberhentikan para uskup, mengadakan suatu Sidang Umum dan mengeluarkan peraturan moral dan keagamaan. Jika Paus mengucilkan seorang penguasa, maka penguasa itu berarti telah berdiri di luar tubuh Kekristenan, dan karena itu la tidak dapat menjadi penguasa di wilayah Kristen (Christendom). Raja Henry IV menolak klaim Paus tersebut. dan menyatakan bahwa kekuasaan raja juga datang langsung dari Tuhan. Menghadapi tentangan itu, Paus menyerukan kepatuhan pasif terhadap Henry IV. Pada akhir pertarungan, Henry IV takluk dan dipaksa menemui Paus Gregory di Canossa pada 1077. Paus kemudian meringankan hukuman atas Henry tetapi tidak memulihkan kekuasaannya. Kasus ini menunjukkan keefektifan kekuasaan Paus atas pemerintah. Institusi kepausan, meskipun tanpa tentara, mampu melakukan pengucilan terhadap raja yang sangat besar kekuasaannya. Dominasi kekuasaan kaum agamawan dalam politik kemudian

menyulut berbagai protes. Tahun 1887, Lord Acton seperti menyindir hegemoni kekuasaan agama dan menulis surat kepada Bishop Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; and absolute power corrupts absolutely.” (Semua penguasa cenderung korup, dan penguasa otoriter sudah pasti korup).

teokrasi kemudian terhadap Berbagai penyimpangan sistem pemberontakan agama. Revolusi Perancis (1789) yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”, secara terbuka menyingkirkan-bukan hanya sistem monarkhi Perancis tetapi juga dominasi kaum agamawan dalam politik. Sebelumnya, para agamawan (clergy) di menempati kelas istimewa bersama para bangsawan. Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Perancis. Kekeliruan sebagian tokoh agama dalam politik yang menindas rakyat akhirnya memunculkan trauma masyarakat Barat terhadap peran agama dalam politik. Bahkan, kemudian muncul fenomena “anti-clergicalism/ kependetaan” di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, berhati-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a women if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind).”

melahirkan semangat

Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi, dan politik (negara) adalah wilayah

publik: agama adalah hal yang suci, sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.

Dalam proses Pemilihan Umum Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden beberapa waktu lalu, di Indonesia, kita menyaksikan bagaimana parpol parpol Islam atau parpol berbasis masa Islam, juga masyarakat pemilihnya ada trends tidak lagi mengedepankan aspek-aspek ideologi, nilai-nilai agama dan moral, melainkan lebih mementingkan aspek materi dan kekuasaan semata.

Liberalisasi di bidang agama telah lama menjangkiti agama Yahudi, sehingga saat ini Liberal Judaism (Yahudi Liberal) secara resmi telah masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Demikian juga Kristen, liberalisasi dalam agama Kristen sudah sangat jauh dan parah.

Agama Kristen mulai bersinar di Eropa ketika pada tahun 313, Kaisar Konstantin mengeluarkan surat perintah (Edik) yang isinya memberi kebebasan warga Romawi untuk memeluk agama Kristen. Tahun 380 Kristen dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut Edik Theodosius, semua warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama di luar itu dilarang. Bahkan, sekte-sekte Kristen di luar “gereja resmi” pun dilarang. Dengan berbagai keistimewaan yang dinikmatinya, Kristen kemudian menyebar ke berbaga penjuru dunia. Akan tetapi, Kristen telah tergerus oleh anus yang tak dapat dihindarinya, yaitu sekularisasi dan liberalisasi. Jika dicermati lebih jauh, perkembangan gereja-gereja di Eropa kini sudah memprihatinkan. Seorang aktivis Kristen asal Bandung memaparkan dengan jelas kehancuran gereja-gereja di Eropa dalam bukunya yang berjudul Gereja Modern, Mau ke Mana? (1995). Kristen benar-benar kelabakan dihantam nilai-nilai sekularisme, modernisme, liberalisme, dan “klenikisme’.

Di Amsterdam, misalnya, 200 tahun lalu 99% penduduknya

beragama Kristen. Kini tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja. Mayoritas mereka sudah sekuler. Di Perancis yang 95% penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13%-nya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Di Jerman pata tahun 1987, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan bahwa agama sudah tidak diperlukan lagi. Di Finlandia, yang 97% Kristen, hanya 3% yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90% Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3% yang rutin ke gereja tiap minggu. Masyarakat Kristen Eropa juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan mereka pada pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat-sebelum bersatu dengan Jerman Timur-terdapat 30.000 pendeta. Tetapi, jumlah paranormal (witchcraft) mencapai 90.000 orang. Di Perancis terdapat 26.000 imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrolog) yang terdaftar mencapai 40.000 orang.

Sejumlah gereja sudah mulai menerima praktik-praktik homoseksualitas. Eric James, seorang pejabat gereja Inggris, dalam bukunya berjudul Homosexuality and a Pastoral Church, mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan mengizinkan perkawinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

Sejumlah negara Barat juga telah melakukan “revolusi jingga”, mereka secara resmi telah mengesahkan perkawinan sejenis. Di berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai kejahatan, begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornografi, dan sebagainya. Barat tidak mengenal sistem dan standar nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif: diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku. Maka, orang berzina, menenggak alkohol,

mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan disahkan oleh negara. Bahkan, para pastor gereja Anglikan di New Hampshire AS telah sepakat mengangkat seorang homoseks bernama Gene Robinson pada November 2003 sebagai Uskup.

Liberalisasi juga telah menjangkiti Islam. Di Indonesia liberalisasi Islam sudah dijalankan sejak awal tahun 1970 an. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi: (1) liberalisasi bidang aqidah, dengan penyebaran pluralisme agama, (2) liberalisasi bidang syariah, dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu, dengan melakukan dekonstruksi terhadap Al-Qur’an.

(1) Liberalisasi Aqidah Islam: Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham pluralisme agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelatifannya, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya sendiri yang lebih benar dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Pluralisme adalah sebuah teologi yang muncul dan didesain dalam setting sosial-politik humanisme sekuler Barat yang bermuara pada tatanan demokrasi liberal. Pluralisme ingin tampil sebagai klaim kebenaran baru yang humanis, ramah, santun, toleran, cerdas, dan demokratis. Hal ini dikatakan oleh tokohnya, John Hick. Semua agama, baik yang teistik maupun non-teistik, dianggap sebagai sama, sebagi ruang atau jalan yang bisa memberikan keselamatan, kebebasan, dan pencerahan, semua agama benar. Karena pada dasarnya semua agama merupakan respon yang beragam terhadap hakikat ketuhanan yang sama. Agama dianggap sebagai pengalaman keagamaan. Kemungkinan datangnya agama dari Tuhan atau Dzat Yang Mahaagung dinafikan dan ditolak mentah-mentah. Tokoh seperti Joachim Wach, seorang ahli perbandingan agama kontemporer bahkan mendefinisikan bahwa pengalaman keagamaan sebagai agama itu sendiri. Lahirlah kesimpulan bahwa semua agama sama secara penuh tanpa ada yang lebih benar daripada yang lain. Sebuah kesimpulan yang menyulitkan mereka sendiri, ketika muncul pertanyaan: “Apakah agama Kristen, dan Islam sama persis dengan agama-agama primitif dan paganis (penyembah” berhala) yang kanibalistik?

Dalam wacana pemikiran Islam, pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak memiliki akar ideologis dan teologis yang kuat. Pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh penetrasi kultur Barat. Malah ada yang menyebut merupakan rekayasa Freemasonry Internasional, sebuah organisasi Yahudi yang sejak awal mengusung slogan: “Liberty, Egality dan Fraternity” (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan), dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa memandang etnis, bangsa, dan agama. Organisasi ini muncul sebagai ‘baju’ untuk menyerukan penyatuan tiga agama (Yahudi, Nashrani dan Islam) dengan agama universal dan mengikis belenggu fanatisme terhadap agamanya.

Dalam Islam wacana pluralisme ini baru muncul pasca perang Dunia II, ketika terbuka kesempatan bagi generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas universitas Barat, terutama mereka yang mengambil jurusan Studi Islam dengan dosen-dosen Yahudi dan Kristen atau para orientalis. Dalam waktu yang bersamaan,

gagasan pluralisme agama ini menembus dan menyusup ke dalam wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithhjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). Buku-buku mereka seperti The Transcendent Unity of Religion, sangat sarat dengan tesis tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh dan berkembanganya wacana pluralisme agama. Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Syi’ah, termasuk yang ikut mempopulerkan teologi Pluralisme. Nasr telah menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-hikmat al-khalidah atau kebenaran abadi), yaitu sebuah gagasan menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal sejak zaman Nabi Adam as. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga telah memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran yang hakiki dan abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu.

Budhy Munawar Rahman, dosen filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, dalam tulisannya di situs www. islamlib.com, 13 Januari 2002, mencoba memaksakan teologi pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam. Terhadap QS. Ali Imran: 19 dan 85 dia mengajak orang-orang untuk memahaminya dengan semangat inklusivisme, semangat dimana Islam diberi makna sebagai agama yang penuh “agama universal” kepasrahan kepada Allah. Sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya, asalkan berpasrah diri kepada Allah.

Muhammad Ali, Dosen UIN Jakarta dalam tulisannya di

harian Republika, tgl 14 Maret 2002 dalam judul Hermeneutika dan Pluralisme Agama, juga mengajak agar tidak memahami QS. Ali Imran: 19 dan 85 itu dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui Islam. Ayat-ayat itu harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi Inklusif. Nurcholis Madjid yang merupakan salah seorang tokoh pengusung telogi pluralisme dalam kata pengantar buku Pluralitas Agama; Kerukunan dalam Keragaman menyatakan: “Kendatipun cara, metoda atau jalan keberagamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah yang Maha Esa.” Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa ia mengakui keberadaan dan kebenaran semua agama, dan menyejajarkan satu agama dengan agama lainnya, sehingga Islam sama dengan agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Majusi, Shinto, Konghuchu, dsb? Karena semua agama menuju tuhan yang sama dengan cara yang berbeda.

Quraisy Shihab dalam mengomentari QS. Al-Baqarah : 120 yang menyatakan: “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridla kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka” menyatakan bahwa ayat tersebut dikhususkan kepada orang Yahudi dan Kristen tertentu yang hidup pada zaman Nabi Muhammad saw, dan bukan kepada umat Kristen dan Yahudi secara keseluruhan. Demikian juga tetang izin Allah untuk memerangi orang kafir, itu bukan diperuntukkan terhadap Yahudi dan Kristen yang termasuk Ahlul Kitab. (Pluralitas Agama, Kerukunan dan Keragaman : 26).

Paham pluralisme agama berakar pada paham relativisme akal dan relativisme iman. Banyak cendekiawan yang sudah termakan paham ini dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar paham relativisme ini, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Paham relativisme akal dan relativisme iman merupakan virus ganas yang berpotensi menggerogoti daya tahan keimanan seseorang. Dengan paham ini, seseorang menjadi tidak yakin dengan kebenaran agamanya sendiri. Dari paham ini, lahirlah sikap keragu raguan dalam meyakini kebenaran. Jika seseorang sudah kehilangan keyakinan dalam hidupnya, hidupnya akan terus diombang-ambingkan dengan berbagai ketidakpastian.

Pembaca yang berbahagia,

Lihatlah kehidupan manusia-manusia seperti ini. Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka; perhatikan akhir hayat mereka. Mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Allah, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Qur’an sudah menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini:

أفرءيت من اتخذ إلهه هونه وأضله الله على علم وختم وقلبه، وجعل على بصرهء غشوة فمن يهديه على شمعه من بعد الله أفلا تذكرون

Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka, siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 23).

Keyakinan akan kebenaran dinul Islam sebagai satu satunya agama yang benar dan diridhai Allah adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Karena itu,

para cendekiawan dan ulama penanggulangan paham syirik perlu menjadikan ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khatib, atau kyai yang mengajarkan paham persamaan agama ini kepada anak didik dan masyarakat.

(2) Liberalisasi al-Qur’an. Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi kitab suci” Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni bidang ini dan menulis satu buku berjudul Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testament.

Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” Al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Qur’an. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al Qur’an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslimin bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan. Beratus-ratus tahun wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi, saat ini suara-suara yang menghujat al-Qur’an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam. Dari kalangan cendekiawan muslim. Mereka menjiplak dan

mengulang-ulang apa yang dahulu pernah disuarakan para orientalis.

Di dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang ditulis oleh Aksin Wijaya, ditulis secara terang-terangan hujatan terhadap kitab suci al-Qur’an. “Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Aksin Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hlm. 123).

Aktivis Islam Liberal, Luthfi Assyaukanie, juga berusaha membongkar konsep Islam tentang al-Qur’an. la menulis: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa al-Qur’an dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafzhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa al-Qur’an yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayalud-dini) yang dibuat oleh para ulama

sebagai bagian dari formasilasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Qur’an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (Luthfi Assyaukani, “Merenungkan Sejarah al-Quran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005), hlm. 1).

Pada bagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahwa Al-Qur’an adalah perangkap bangsa Quraisy’, seperti dinyatakan oleh Sumanto Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang. la menulis: “Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan perangkap bangsa Arab’, dan al-Qur’an sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi ‘perangkap’ bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.” (Sumanto Al-Qurtubhy, “Membongkar Teks Ambigu”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed) Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 17).

Jadi, di berbagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan sejenisnya memang sangat aktif dalam menyerang al Qur’an secara terang-terangan.

(3) Liberalisasi Syariat Islam. Inilah aspek yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti dijelaskan Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”. Salah satu hukum yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara muslimah dengan laki-laki non muslim

non-muslim.

Dalam buku Fiqih Lintas Agama tertulis: “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihad dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar-agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena keududukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina & The Asia Foundation, 2004), hlm. 164).

Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkawinan antar-agama. la menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fikih yang mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim…. Isu yang paling mendasar dari larangan PBA (Perkawinan Beda Agama, red) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 220-221).

Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul

dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke 7).

Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. “Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (Lihat buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual [Semarang: Lembaga Studi Sosial dan

Agama/eLSA, 2005], hlm. 15)

Pada bagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-kata yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang muslim pun: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Para pengusung liberalisme dan pluralisme ini juga sangat menentang penerapan syari’at Islam, karena akan mendiskreditkan penganut agama lain, akan menzhalimi kaum wanita, banyak syari’at Islam yang dinilainya bertentangan dengan HAM, Demokrasi, Gender Equality (Kesetaraan Gender) dan Pluralisme.

Ulil Absar Abdalla pengerek bendera JIL pernah mengatakan: “Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dan “mereka”, antara hizbullah (golongan Allah) dan hizbus syaithan (golongan syetan) adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu Dia juga sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia.” mengatakan bahwa amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan ‘baju’ yang dipakai, sementara mereka lupa inti ‘memakai baju’ adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Mahabenar. Dengan pemikiran ini berarti dia ingin menganulir firman Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan, hizbullah dan hizbus syaithan seperti yang tertuang dalam al-Qur’an:

ومن يتول الله ورسوله، والذين ءامنوا فإن حزب الله همالغلبون

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maidah [5]: 56)

استحوذ عليهم الشيطن فأنسهم ذكر الله أولتبك حزب الشيطن ألا إن حزب الشيطن هم الخسرون

Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi. (QS. Al-Mujadilah [58]: 19)

Dengan demikian bagi kaum pluralis dan liberalis, semua manusia sama, tidak ada mukmin tidak ada kafir, tidak ada manusia tha’at dan tidak ada manusia bejat, mereka telah mengangkat kesesatan, kekufuran, dan kemusyrikan sejajar dengan hidayah, tauhid dan ketakwaan. Dan pada akhirnya sikap antipati terhadap segala macam kesesatan dan kemunkaran akan sirna. Menurut slogan kaum pluralis: “Agama-agama seperti Yahudi, Nashrani dan Islam, ibaratnya seperti keberadaan empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semuanya pada hakikatnya menuju kepada Allah.” Dampak lainnya dari pemahaman seperti ini, ketika semua agama dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang “sendiko dawuh” dengan paham pluralisme ini tidak akan memiliki ghirah atau kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada keistimewaan pada Islam jika dibanding dengan Kristen misalnya. Karena semua agama sama, dengan tuhan yang sama hanya beda cara memanggil atau menyebut, dengan baju dan cara yang beda. Pada saat yang bersamaan, secara finansial para missionaris Kristen yang banyak melakukan pendekatan dakwah dengan finansial, secara logika manusia normal, ketika seseorang harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap

benar, tentunya variabel lain yang akan dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Mereka akan dengan ringan melepas ‘baju’ Islam untuk mendapatkan duit atau materi dengan memakai ‘baju’ Kristen. Dan ini akan merupakan kontribusi atau sumbangan sangat berharga kaum pluralis dan liberalis bagi suksesnya missi kristenisasi.

Teologi Pluralisme yang diusung kaum Liberalis ini sebenarnya telah ketinggalan zaman, kalau kita memperhatikan pernyataan para pakar sejarah dan teolog Kristen, seperti: 1) Uskup John Shelby Spong dalam bukunya Why Cristianity Must Change or Die (1998) (mengapa agama Kristen harus berubah atau akan mati) menyatakan: “Kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juru Selamat…. Ajaran ini harus dicabut dan dibuang.” 2) Reverend DR. Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Years of Yesus Revealed (1992) menyatakan: “Para pemuka agama Kristen tidak dapat dimaafkan untuk (memepertuhankan Yesus) dengan memanfaatkan keterbatasan berfikir orang-orang Palestina 2000 tahun yang lalu.” 3) John Davidson dalam bukunya The Gospel of Yesus (1995) menyatakan: “Barangkali kita (umat Kristen) telah tersesat selama 2000 tahun.” Ketiga contoh di atas memperlihatkan ketiga pakar dan teolog tersebut bukannya mengatakan bahwa agama mereka, Krsiten, adalah agama yang benar, mereka malah mengakui sebaliknya, agama mereka ternyata agama yang salah dan menyesatkan. John Shelby Spong dalam bukunya Rescuing the Bible From Fundamentalism (1991) malah menyatakan: “Dia (Paus Paulus) tidak menulis firman Allah, yang dia tulis adalah kata-katanya sendiri yang khusus, penuh keterbatasan serta memiliki kelemahan sebagai ciri seorang manusia.” Aneh bin ajaibnya kaum pluralis liberalis di Indonesia malah ngotot menyatakan bahwa Kristen sama dengan Islam?

Seorang tokoh JIL dalam Jawa Pos (11/1-2003) menyatakan: “Bagi saya all scriptures are miraccles (semua kitab suci adalah mukjizat).” Subhanallah! Berarti Al-Qur’an bagi dia sejajar dengan kitab Weda dan Bagawad Gita-nya Hindu, Tripitaka-nya Budha, Su Si-nya Konghuchu, Tao The Ching-nya Taoisme, Darmo Gandul dan Gatholoco nya Aliran Kebatinan. Padahal tentang Taurat saja Allah telah berfirman:

من الذين هادوا يحرفون الكلم عن مواضعه

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan (dalam Taurat) dari tempat-tempatnya. (QS. An-Nisa [4]: 46)

Tentang Injil yang dikarang oleh para penulisnya, Allah telah menegaskan:

فويل للذين يكتبون الكتب بأيديهم ثم يقولون هذا من عند الله ليشتروا به، ثمنا قليلا فويل لهم مما كتبت أيديهم وويل لهم مما يكسبون

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah [2]: 79)

Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no 153 yang diberi judul bab oleh Imam An-Nawawi “Wujubul Iman bi Risalatin Nabi saw lla Jami’in Nasi Wa Naskhul Milali bi Millatihi” menegaskan: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dalam

keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, pasti ia akan masuk neraka.” Allah swt dalam banyak ayat juga telah dengan tegas

menyatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir:

إن الذين كفروا من أهل الكتب والمشركين في نار جهنم خالدين فيها أوليك هم شر البرية و إن الذين ءامنوا وعملوا الصلحت أولتبك هم خير البرية

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. Al-Bayyinah [98] : 6-7)

لقد كفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم وقال المسيح يبني إسرءيل أعبدوا الله ربي وربكم إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنّة ومأوله النار وما للظلمين من أنصار © لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالث ثلثة وما من إله إلا إله واحد وإن لم ينتهوا عما يقولون ليمشن الذين كفروا منهم عذاب أليم *

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al Maidah [5]: 72-73)

Jika Allah Swt dan Rasul-Nya telah menegaskan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir, beberapa teolog dan pakar sejarah Kristen pun telah menyatakan bahwa agama mereka salah dan menyesatkan, sementara para pengusung dan pejuang pluralisme agama dengan mendasarkan ajarannya kepada: demokrasi, HAM, gender equality dan pluralisme masih menganggap dan meyakini serta mengkampanyekan bahwa semua agama sama, semua kitab suci sama sebagai mukjizat, tuhan yang disembah sama, sehingga praktis menyejajarkan Allah dengan Yesus, Uzeir, Roh Kudus, Sang Hyang, Sang Budha dan Dewa, agama hanya dianggap baju. Pertanyaannya: “Masih beragamakah orang yang seperti ini? Kalau masih, agama apakah itu?”

Pembaca yang berbahagia

Dari uraian tulisan ini diharapkan kita semua menyadari akan banyaknya tantangan dakwah yang kita hadapi, sehingga kita dituntut untuk merapatkan shaf perjuangan kita. Kita juga semakin menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari gerakan sekularisasi dan liberalisasi yang dilakukan musuh-musuh Islam dan muslimin dengan mengeksploitasi penyakit hubud dunya yang telah menjangkiti kalangan intelektual dan cendekiawan muslim, yang jika kita biarkan, akan meracuni alam pikiran dan aqidah serta akhlak generasi muda muslim ke depan. Semoga Allah swt mengampuni segala kealfaan, kelengahan, dan ketidakpedulian kita akan masalah Islam dan muslimin, dan memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk melakukan perlawanan terhadap berbagai perang pemikiran yang membahayakan ini.

Pentingnya Hidâyatud-Dîn

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا،من يهد الله فهو المهتدى ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد؛

Alhamdulillah kita bersyukur ke hadirat Allah, yang mana atas segala rahmat dan izin-Nya kita masih bisa menikmati segala pemberian dari-Nya Semoga amalan kita selalu dijadikan sebagai amal shalih. Amin.

Manusia sejak lahir sudah mempunyai kebutuhan hidup, baik makanan, minuman atau kebutuhan yang lainnya. Untuk meraih kebutuhan hidupnya, Allah telah memberikan berbagai petunjuk, yaitu;

Pertama; Hidayatul-Wijdân; yaitu hidayah yang berupa naluri atau insting, seperti halnya bayi bisa menangis atau senyum. Menangis adalah tanda bahwa anak itu sakit dan dengan menangis dapat memudahkan ibu untuk memenuhi kebutuhannya. Jika bayi menangis, ibu langsung menyusuinya dan jika tidak mau dan terus menangis, itu berarti ada rasa sakit yang dideritanya dan kemudian dibawa ke dokter. Bayi menangis di malam hari, itu tandanya ngompol, kemudian ibu langsung menggantikan pakaiannya.

Kalau kita bertanya, siapakah yang mengajarkan menangis kepada bayi? Darimana ia bisa menangis dan mengapa ia menangis? Jawabnya, karena Allah telah memberikan hidayah wijdan (naluri) kepada bayi tanpa melalui didikan seorang guru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya seorang ibu mengurus anaknya kalau tidak diberikan naluri seperti itu. Ditanya belum dapat menjawab, meminta langsung juga belum bisa berbicara.

Itulah hidâyatul-wijdân yang Allah berikan kepada bayi. Dan hidayah ini bukan saja untuk manusia, tetapi hewan pun sama diberikan insting. Seperti halnya ayam mengerami telurnya selama 21 hari, siapakah yang menyuruh atau membujuk ayam untuk mengerami telurnya, atau siapakah yang menyuruh kura-kura untuk mengubur telurnya, siapakah yang mengajar laba-laba untuk membuat rumahnya? Itu semua adalah hidayah dari Allah yang berupa insting.

Kedua; Hidayatul-Hawâs; yaitu hidayah yang berupa indera yang lima. Dengan tangan orang mampu memilih kebutuhan hidupnya, orang dapat memilih barang yang halus atau yang kasar. Dengan mata orang dapat memilih warna, rupa atau wajah seseorang. Dengan lidah orang dapat memilih makanan yang lezat atau yang tidak. Dengan hidung orang dapat memilih, mana yang harum dan mana yang bau busuk. Dengan telinga orang dapat membedakan mana suara binatang, mana suara manusia dan siapa yang memanggilnya?

Indera yang lima ini dengan berbagai fungsinya adalah anugerah dari Allah yang besar untuk meraih kebutuhan hidupnya, memilih segala kebutuhannya, mana yang baik dan mana yang jelek. Dapat kita bayangkan orang yang sudah mati rasa tidak dapat menikmati makanan mana yang lezat, mana yang tidak. Tentu saja sudah hilang perangsang untuk makan.

Ketiga; Hidayatul-‘Aqli; yaitu petunjuk yang diperoleh lewat pilihan akal. Indera lidah dapat memilih makanan yang lezat atau yang tidak, tetapi tidak bisa memilih mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Orang yang menderita diabet terpaksa harus mengurangi makanan atau minuman yang manis-manis. Hal itu adalah berdasarkan petunjuk akal, bukan petunjuk lidah karena kalau menurut lidah, itu adalah makanan yang enak.

Inilah kelemahan petunjuk indera, hanya dapat memilih yang enak dan tidak, tetapi tidak bisa memilih mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan. Allah hanya memberikan dua hidayah saja kepada binatang, yaitu insting dan indera tapi tidak diberikan akal untuk dapat mengembangkan kemampuannya. Dapat dipastikan kalau binatang diberikan akal, manusia pasti kalah bersaing dengan binatang. Andai binatang buas memiliki akal, sudah pasti manusia akan kalah bersaing. Tetapi dengan tidak diberikan akal, ternyata binatang buas pun dapat ditundukkan oleh manusia.

Di samping itu juga, manusia dengan akalnya mampu meningkatkan taraf hidupnya atau mengembangkan teknologinya. Manusia dengan akalnya mampu menginjakkan kakinya di bulan, menyeberangi samudera yang luas, menyelam ke dasar laut, dapat berkomunikasi langsung dengan orang yang ada di luar negeri dengan teknologi internetnya, dan lain sebagainya.

Siapakah yang telah menciptakan akal dengan segala kemampuannya, bagaimana dapat menyerap ilmu yang banyak? Siapakah yang menciptakan otak kiri dan otak kanan dengan fungsi yang berbeda? Mengapa otak binatang tidak dapat digunakan untuk berpikir, padahal binatang

juga sama diberikan otak? Itulah anugerah Allah yang besar untuk manusia. Seharusnyalah manusia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan anugerah akal yang begitu besar.

Keempat; Hidâyatud-Din; yaitu petunjuk agama berdasarkan wahyu dari Allah untuk kesempurnaan hidup manusia. Karena dengan petunjuk akal, manusia hanya mampu mengkonsumsi kebutuhan fisik jasmani, sementara kebutuhan rohani tidak dapat dipenuhinya. Manusia ingin hidup bahagia, tenang, tenteram dan penuh rasa aman. Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi dengan akal atau materi. Kenyataannya orang bertambah kaya justru bertambah takut, bertambah tinggi pangkat dan jabatan bukan bertambah aman, malahan bertambah takut, cemas dan gelisah. Maka untuk meraih kebahagiaan, tidak ada lagi resepnya kecuali dengan hidayatud-dîn. Allah telah menjamin dalam salah satu firman-Nya:

… فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون

“…maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. al-Baqarah: 38)

Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dijamin tidak akan merasa takut yang berlebihan atau sedih yang berkepanjangan. Kedua sifat ini cukup mengganggu ketenangan dan ketenteraman batin.

Sebagai contoh, Nabi dan para shahabatnya tidak kurang mendapatkan ancaman, teror dan tekanan, tetapi mereka cukup mengatasinya dengan berserah diri kepada Allah dengan keyakinan;

قل أن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا هو مولينا وعلى الله فليتوكل المؤمنون

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Q.S. al-Taubah: 51)

Ayat ini cukup menenangkan kita karena Allah-lah yang menentukan segala-galanya. Manusia bisa saja berencana tetapi mereka tidak akan dapat mendahului kehendak-Nya. Demikian juga dalam salah satu hadits, Nabi dinyatakan gemuk dan sehat karena mampu memelihara kedua telinganya, yaitu informasi yang masuk ke telinga itu kadang menggembirakan, kadang juga menyakitkan. Dalam hal ini Nabi mampu meredam berita-berita yang tidak menyenangkan dan tidak membuat sakit hati atau menegangkan, semuanya diserahkan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Itulah urgensi hidâyatud-dîn untuk kesempurnaan hidup manusia.

Ikhwatu iman rahimakumullah, Allah telah menciptakan manusia dengan postur tubuhnya yang begitu sempurna, Allah tentu lebih tahu kondisi

manusia, lebih tahu watak dan tabi’atnya. Allah juga telah menciptakan ‘buku petunjuk’ untuk manusia, bagaimana seharusnya manusia menjalani hidupnya untuk dapat meraih kebahagiaan yang sempurna.

Al-Qur’an dengan seperangkat petunjuknya telah Allah ciptakan untuk dijadikan way of life; jalan hidup, yang pasti akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Segala petunjuk yang ada dalam al-Qur’an tidak akan memberatkan yang miskin, tidak akan merugikan orang yang kaya, tidak akan merendahkan harkat dan martabat pejabat dan tidak akan mempersulit orang yang sengsara. Allah berfirman;

فأقم وجهك للدين حنيفا فظرت الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rûm: 30)

Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa: (1) Hadapkanlah jiwa ragamu terhadap agama. (2) Agama itu adalah ciptaan Allah yang pasti cocok dengan fithrah manusia. (3) Jangan mencari pengganti agama ciptaan Allah. (4) Itulah agama yang tegak dan lurus yang seharusnya dijadikan pedoman hidup manusia. (5) Tetapi sayangnya kebanyakan manusia tidak tahu hakikat agama.

Kenyataan membuktikan, mana perintah agama yang bertentangan dengan fithrah manusia. Shalat dengan gerakan tertentu ternyata tidak memberatkan manusia, bahkan telah diakui bahwa gerakan shalat itu banyak

pengaruhnya terhadap kesehatan. Zakat dengan wujud mengeluarkan sebahagian harta tidak akan merugikan orang kaya atau pengusaha, justru zakat menjadi keamanan harta sekaligus akan menghilangkan kecemburuan sosial di masyarakat. Shaum juga tidak akan memberatkan aktivitas manusia, justru dengan syari’at shaum banyak pengaruhnya untuk kesehatan fisik. Ibadah haji walau dengan ONH yang besarnya kurang lebih Rp. 44.000.000, ternyata tidak memberatkan. Buktinya, sampai terjadi waiting list, antri sampai 10 tahun untuk dapat pergi menunaikan ibadah haji.

Demikian juga syari’at-syari’at Islam yang lainnya, tidak ada yang merugikan umat bangsa atau negara, bahkan Islamlah yang telah memberikan sumbangan yang besar untuk kehidupan manusia di dunia ini. Seharusnyalah agama Islam itu dipeluk, disambut, karena agama Islam itu ajaran yang membawa rahmatan li al-‘Alamîn.

Mudah-mudahan kita selalu mendapat hidayah dan inayah Nya untuk dapat selalu melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, juga senantiasa selalu bisa mensyukuri akan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita semua sehingga kelak nanti menjadi pengikut Nabi Muhammad saw selaku penghuni surga yang mendapat sebaik-baik balasan di hari akhir.

Speaking Activities for Adults: Free Their Inner Kids

esl-speaking-activities-for-adults

Ah, to be young again.

Younger ESL students know what’s up. They treat being in ESL class like being on the playground.

Got a couple of bumps and bruises on the jungle gym? Brush yourself off and keep playing, kid.

Made a few English mistakesLaugh it off and keep chattering away.

And that’s how it should be! ESL class is the perfect place to make English mistakes.

That being said, speaking out loud in front of other people—especially in a second language—can be nerve-wracking for anyone. Which is why it’s essential to get creative with ESL speaking activities for adults.

Youngsters are often less inhibited than adults, so when teaching English speaking lessons to adults, there are some things that we need to bear in mind.

1. Adults, from any cultural background, still like to have “fun,” but their idea of what’s fun may be different from yours.

2. Adults are likely to be more sensitive to the need for dignity, and won’t want to “lose face” in front of others.

Those are a couple of big ones, but there’s still more. Keep reading to find out all you need to know about teaching speaking lessons to your adult ESL students.

Teaching Adult ESL Students

If you’re teaching a class overseas (rather than a class with mixed nationalities in your home country), you need to be aware of local sensitivities, especially to appropriateness in mixed gender situations.

  • While your school may have considered it acceptable to have men and women learning in the same room, you should notice if students have a strong tendency to sit separately based on gender. When you indiscriminately ask them to pair off, you may observe signs of discomfort or even distress in some students.
  • Sometimes you may notice that the class is silent and attentive when a male student is talking, but students fidget and become talkative when a female student takes her turn at the front.

What can you do about it?

  • If they have sufficient language skills, you could open up a class discussion about it.
  • Be flexible when arranging the class, without necessarily letting them become lazy and work with their same favorite partners every time.

There are a few other things to consider about teaching ESL to adult students:

  • Just because they’re of a mature age doesn’t mean that they necessarily have advanced language skills.
  • If they’re struggling, it may mean that they’ve forgotten language lessons from earlier school days—we refer to students who have studied English before and later forgotten “false beginners.”
  • Try not to always link reading skills too closely to speaking skills, because they may be having difficulties with the reading.
    • They may actually be illiterate (especially if they’re refugees).
    • They may be literate in a different script but are struggling with English script.
    • They may have a learning difficulty such as dyslexia.

No matter the unique challenges facing each adult ESL student, with the right motivation, encouragement and direction they can still learn to improve their English speaking skills.

Strategies for Getting Adult ESL Students to Speak

esl speaking activities for adults

Students need to speak out loud by themselves and not just follow along in their heads while someone else speaks. It isn’t good enough for them to only mumble along with the crowd as in a drilling exercise.

Here are some possible speaking opportunities that you can provide your students:

  • Stand up in front of the class and speak. (This is good practice for the speaking part of exams such as IELTS, TOEFL or TOEIC.)
  • Stand up in front of the class with a partner and present something together.
  • Be part of a group presenting a drama or role-play in front of the class.
  • Take part in a whole-class discussion or debate. (Make sure everyone participates. Often the quieter students will sit back and not participate in this.)
  • Be involved in pair work where every student must talk with a partner.
  • Be involved in small group discussions where individual students are less likely to get left out.

It’s also important to lay the groundwork outside of dedicated ESL speaking activities. While young students are often comfortable diving straight into new tasks, adults may want to see it done first and mentally prepare.FluentU is a helpful tool for this purpose—it provides authentic English videos that have been transformed into level-appropriate language lessons.

It’s got a huge collection of authentic English videos that people in the English-speaking world actually watch regularly. There are tons of great choices there when you’re looking for songs for in-class activities.

You’ll find music videos, musical numbers from cinema and theater, kids’ singalongs, commercial jingles and much, much more.

teach-english-with-interactive-videos

On FluentU, all the videos are sorted by skill level and are carefully annotated for students.

Words come with example sentences and definitions. Students will be able to add them to their own vocabulary lists, and even see how the words are used in other videos.

18 Ideas for ESL Speaking Activities for Adults

1. Short Talks

Create a stack of topic cards for your students, so that each student will have their own card.

Each student draws their card, and then you assign them a time limit—this limit may be one minute initially, or maybe three minutes when they have had practice. This is the amount of time that they’ll have to speak about their given topic.

Now, give the students a good chunk of time to gather their thoughts. You may want to give them anywhere from five minutes to half an hour for this preparation stage. You can let them write down three to five sentences on a flashcard to remind them of the direction they’ll take in the course of their talk.

To keep listening students focused, you could create an instant “Bingo” game. The class is told the topic and asked to write down five words that they might expect to hear (other than common words such as articles, conjunctions and auxiliary verbs). They listen for those words, crossing them off as they hear them and politely raising a hand if they hear all five.

2. Show and Tell

esl speaking activities for adults

Students can be asked to bring to school an object to show and tell about. This is lots of fun because students will often bring in something that’s meaningful to them or which gives them pride. That means they’ll have plenty to talk about! Encourage students to ask questions about each other’s objects.

Instead of having students bring their own objects, you could provide an object of your own and ask them to try to explain what they think it is and what its purpose is. Another option is to bring in pictures for them to talk about. This could be discussed with a partner or in a group, before presenting ideas in front of the whole class.

Generate a stronger discussion and keep things flowing by asking students open-ended questions.

3. Video Dictionary

esl speaking activities for adults

The English videos on FluentU—with their built-in vocabulary lists—can be catalysts for conversation practice. Every word used in a video has a definition, plus extra usage examples.

In this activity, students will learn some vocabulary words from the videos, then create their own definitions or usage examples for those words.

1. Select several FluentU videos for teams of your students to watch. With hundreds of available videos, you can easily find suitable videos that work for your students’ learning levels and interests.

2. Use the built-in vocabulary list to select the words you’d like your students to learn. (You can also combine words from several different videos into the same multimedia flashcard deck in FluentU.)

  • If your students were watching the “Small Talk” video, you might target certain words in the Vocab list, such as “responses,” “engaging” and “brisk.”
Vocab for ESL Speaking Activities

3. Divide your class up into teams of about three or four students apiece and have them watch the selected videos.

4. Students will work together to come up with new usage examples or definitions to illustrate the vocabulary words from their chosen video. Each sentence’s context should make the target vocabulary’s meaning clear.

  • Let’s say you’ve included the word “brisk” from the the “Small Talk” video:
  • “I wanted to get a little exercise this morning, so I took a brisk walk to the mailbox.” (usage example)
  • Brisk means done quickly, with a lot of energy.” (definition)
ESL Speaking Activities vocab definition

5. Teams will take turns presenting words (and their own examples or definitions) to each other. Students on each team should take turns presenting their example sentences or definitions.

6. Students can also be given time for discussing the words they learn, having conversations about what the words mean and how to use them.

VARIATION:

After watching the other teams’ presentations, students who didn’t watch the video can take the matching quiz on FluentU, to see how well they learned the target words from their fellow students.

4. PechaKucha

If your students have laptops (or a computer lab they can use) and are reasonably familiar with presentation software (such as PowerPoint), then all that’s left to acquire for this activity is access to an LCD projector.

Students can have a lot of fun speaking while giving a presentation to the class. Using projected images helps to distract some attention away from the speaker and can be helpful for shy students.

The “PechaKucha” style of presentation* can give added interest with each student being allowed to show 20 slides only for 20 seconds each (the timing being controlled by the software so that the slides change automatically) or whatever time limit you choose. You could make it 10 slides for 15 seconds each, for example.

You could also add rules such as “no more than three words on each slide” (or “no words”) so that students must really talk and not just read the slides. They need to be given a good amount of time, either at home or in class, to prepare themselves and practice their timing. It can also be prepared and presented in pairs, with each partner speaking for half of the slides.

*PechaKucha originated in Tokyo (in 2003). The name means “chitchat.”

“Nowadays held in many cities around the world, PechaKucha Nights are informal and fun gatherings where creative people get together and share their ideas, works, thoughts, holiday snaps—just about anything, really.”—the PechaKucha 20×20 format.

5. Bingo

Many people think of this game as a listening activity, but it can very quickly become a speaking activity.

There are a number of ESL websites that will allow you to quickly create a set of Bingo cards containing up to 25 words, phrases or even whole sentences. They’ll allow you to make as many unique cards as you need to distribute a different card to each student in class. Each card can contain the same set of words arranged differently, or you can choose to have more or less than 25 items involved.

Rather than having students mark up their cards, you can give them markers (such as stones or sunflower seeds) to place on each square as they recognize it. This way the markers can be removed and the game can be repeated.

For the first round, the teacher should “call” the game. The first student to get five markers in a row in any direction shouts out “Bingo!” Then you should have this student read out every item in their winning row.

The winner is congratulated and then rewarded by becoming the next Caller. This is a great speaking opportunity. Everyone removes their markers and the game starts again. Every expression that’s called tends to be repeated quietly by everyone in the room, and by the end of a session, everyone can say all of the expressions on the card.

6. Two Texts

This challenging task is great for more capable students and it involves reading. Having texts in front of them can make adult students feel more supported.

Choose two short texts and print them out. Print enough of each text for half of the class. Create a list of simple questions for each text and print out the same quantity.

Divide the class into two groups and hand out the texts. Hang onto the question sheets for later. One group gets one text, the second group gets the other text. The texts can be about related topics (or not).

Group members then read their texts and are free to talk about them within their group, making sure they all understand everything. After five minutes or so, take the papers away.

  • Each student is paired with someone from the other group. Each student must tell their partner everything they learned from their text. Then they must listen to (and remember) what the other student tells them about their group’s text.
  • Students return to their original groups and are given a list of questions about their original text.
  • Students are paired again, this time with a different person from the other group. Each student must test their partner using the questions about the text—which their partner never read and was only told about. Likewise, the students quizzing their partners must answer questions about the text they were told about.

Another day use two different texts and try this activity again. Students do remarkably better the second time!

7. Running Dictation

This useful activity requires students to use all four language skills—reading, writing, listening, and speaking—and if carefully planned and well-controlled can cause both great excitement and exceptional learning.

Pair students up. Choose who will run and who will write. (At a later stage they could swap tasks.)

Print out some short texts (related to what you’re studying) and stick them on a wall away from the desks. You should stick them somewhere out of sight from where the students sit, such as out in the corridor.

There could be several numbered texts, and the students could be asked to collect two or three each. The texts could include blanks which they need to fill later, or they could be asked to put them in order. There are many possibilities here!

The running students run (or power-walk) to their assigned texts, read, remember as much as they can and then return to dictate the text to the writing student. Then they run again. The first pair to finish writing the complete, correct texts wins.

Be careful that you do not:

  • Let students use their phone cameras to “remember” the text.
  • Let “running” students write—they can spell words out and tell their partner when they’re wrong.
  • Let “writing” students go and look at the text (or let “running” students bring it to them).

8. Surveys and Interviews

esl speaking activities for adults

Becoming competent at asking and answering questions is invaluable in language learning.

In the simplest form of classroom survey practice the teacher hands out ready-made questions—maybe 3 for each student—around a topic that is being studied.

For example, let’s say the topic is food. Each student could be given the same questions, or there could be several different sets of questions such as questions about favorite foods, fast foods, breakfasts, restaurants, ethnic foods, home-style cooking, etc.

Then each student partners with several others (however many the teacher requires), one-by-one and asks them the questions on the paper. In each interaction, the student asking the questions will note down the responses from their peers.

At the end of the session, students may be asked to stand up and summarize what they found out from their survey.

9. Taboo

In this game, one player has a card listing four words:

  • The first word is the secret word. The aim of the game is to get another player to say this word. The student with the card will need to describe this word until another student figures out what the secret word is.
  • The other three words are the most obvious words that you might use to explain the secret word. They are all “taboo” and cannot be used in the student’s description of the secret word.

This game can be played between two teams. It can also be played between partners.

You can create your own sets of words based on what you’ve been studying, or you can find sets in your textbook and on the internet.

10. Discuss and Debate

More mature students can discuss and debate issues with a partner. They can even be told which side of the argument they should each try to promote. This could be a precursor to a full-blown classroom debate.

Working with a partner or small group first gives them an opportunity to develop and practice the necessary vocabulary to speak confidently in a larger forum.

11. I Like People

esl speaking activities for adults

Adults do like to have fun, as long as they aren’t made to feel or look stupid. This is a brilliant game for helping them think quickly and speak more fluent English (rather than trying to translate from their native tongue).

1. Students sit on chairs in a circle, leaving a space in the circle for the teacher to stand.

2. First, they’re asked to listen to statements that the teacher makes and stand if it applies to them, such as: “I like people who are wearing black shoes,” “I like people who have long hair,” etc.

3. Next, the teacher asks standing students to change places with someone else who’s standing.

4. Now it becomes a game. The teacher makes a statement, students referred to must stand and quickly swap places. When the students move around, the teacher quickly sits in someone’s spot, forcing them to become the teacher.

5. The students quickly get into the swing of this game. Generally, they’ll quickly notice a “cheating” classmate who hasn’t stood up when they should have, and they’ll also eagerly encourage a shy student who finds himself standing in the gap with no ideas.

This game has no natural ending, so keep an eye on the mood of the students as they play. They may start to run out of ideas, making the game lag. Quickly stand and place yourself back into the teacher position and debrief (talk with them about how they felt about the game).

12. Sentence Auction

Create a list of sentences, some correct and some with errors.

  • The errors should be related to a language topic you’re teaching or reviewing (e.g. articles, tenses or pronouns).
  • The number of sentences will depend on your students’ abilities. 20 is a good number for intermediate students. If you have too few sentences then it will be harder to balance the correct and incorrect.
  • The ratio of correct and incorrect is up to you, but it’s a good idea to have more than 50% correct.

Next to the list of sentences draw three columns: Bid, win, lose.

You can set a limit for how much (imaginary) money they have to spend, or just let them have as much as they want.

They need to discuss (in English) and decide whether any sentence is 100% reliable, in which case they can bid 100 dollars (or whatever unit you choose). If they’re totally sure that it’s incorrect (and they rarely are) they can put a “0” bid. If they’re unsure, they can bid 20, 30, 40, based on how likely it is to be correct. (Having a limit on their total bid will make them decide more carefully.)

  • When all of their bids are written in, it’s often a good idea to get pairs to swap their papers with other pairs for marking.
  • Go through the sentences, discussing which are correct and why. Get individual students to explain what’s right, what’s wrong and why.
  • For correct sentences, the bid amount is written in the “win” column. For incorrect sentences, it’s written in the “lose” column.
  • Both columns are totaled, and the “lose” total is subtracted from the “win” total.
  • Papers are returned, and partners discuss (in English) how their bidding went.

This activity is most effective when the students work together as partners, reading and discussing the correctness of sentences. Students are encouraged to use English to discuss their strategies with their partner.

13. Alibi

esl speaking activities for adults

This well-known ESL game is great speaking practice for adults. The teacher tells the class that a particular crime has been committed. For fun, make it locally specific. For example:

“Last Friday night, sometime between ___ and ___, someone broke into the ____ Bank on ____ Street.”

Depending on the size of your class, pick several students as “Suspects.” The “Police” can work in groups of 2-4, and you need one Suspect for each police group. So, for example, in a class of 20 you could choose four Suspects and then have four groups of four Police for questioning.

Tell the class: “___, ___, ___ and ___ were seen near the scene of the crime, and the police would like to question them.”

The Suspects go outside or to another room to prepare their story. They need to decide all of the details about where they were during the time of the crime. For example: If they were at a restaurant, what did they eat? What did it cost? Who arrived first?

1. The Police spend some time preparing their questions.

2. The Suspects are called back in and go individually to each police group. They’re questioned for a few minutes, and then each one moves on to the next group.

3. The Police decide whether their answers match enough for them to have a reasonable Alibi. (Maybe up to five mistakes is reasonable.)

14. Typhoon

Explain to students that this game is named after the strong wind that blows everything away. It can be played with a class as small as three, but it also works with large classes. It’s great for reviewing speaking topics.

1. On the board draw a grid of boxes—a 6 x 6 grid works well and can take about 45 minutes to complete, but you may vary this once you’ve played a few times. You’ll just want to choose the size depending on how much time you have. Mark one axis with numbers, the other with letters. (Or use vocabulary words like adjectives on one and nouns on the other.)

2. On a piece of paper or in a notebook (out of sight) draw the same grid. On your grid, fill in scores in all of the boxes. Most of them should be numbers, and others will be letters. It doesn’t matter which numbers you choose, but it’s fun to have some small ones (1, 2, 3, etc.) and some very big ones (500, 1000, etc.). About one in four boxes should have the letter “T” for “Typhoon.”

3. Put the students into teams—at least three teams—and mark a place on the board to record each team’s score.

4. Ask questions or give speaking tasks to each team in turn. If they answer correctly, they then “choose a box” using the grid labels. The teacher checks the secret grid, and writes the score into the grid on the board. This score also goes into the team’s score box.

5. If the chosen box contains a number, the scores simply add up. But if the box contains a “T,” the team then chooses which other team’s score they want to “blow away” back to zero.

Notes on Typhoon:

  • If you run out of time but the game isn’t finished, declare a “no questions, just choose” period to fill the rest of the grid and find out who wins.
  • Students love this game, so you can spice it up by adding different symbols in some of the boxes. I use:
    • Swap: They must swap their score with another team’s score, even if they’re winning.
    • S: Steal. They can steal a score instead of just blowing it away.
    • D: Double. They double their own score.
  • After a couple of times playing this game, students can easily run it themselves. This provides even more opportunities to speak. One student (or a pair) could handle the grid, another could handle the scoreboard, others can make or choose questions or tasks and someone can be Game Presenter.

15. Improv

All the world’s a stage, and this role-playing activity will prepare your students for their speaking parts.

1. Devise several scenarios with two or more characters and a premise. These could be something simple, like someone going to a bakery to buy a cake, taking a bus across town (and figuring out the schedule and transfers) or visiting a museum with an unusual exhibit.

2. Divide your students into teams, with one student per role.

3. Give your students the premise for the scenario they’re going to act out. For example, you might say, “You’re a father at a bakery, trying to buy a cake with your child’s favorite cartoon character. The baker has never heard of this character. You need to describe how the character looks so that the baker can create the cake you want.”

4. Each team member will have about five minutes to prepare their part of the skit. Ask each student to prepare separately. That way, the other students they are interacting with must react spontaneously to their questions and statements.

5. Each team will perform their vignette in front of the whole class. Limit the time to play out each scenario to five or ten minutes.

6. At the end of each round, the non-performing class members can ask questions of those performing their roles. The performing students should respond in character to the questions.

7. Play can continue for as long as you’d like. Students can get the opportunity to play different types of characters with different issues.

This activity will help students react to impromptu situations. It will encourage them to react and respond to the prompts and cues of their fellow players directly in English, rather than translating from their native language.

With this activity, you can guide students to exercise their topical vocabulary in real-life contexts. There are almost limitless possibilities for the scenarios you can create.

VARIATION:

To add writing (and reading) practice to this activity, consider having students create scenarios for each other’s role-playing.

16. News Brief

esl speaking activities for adults

Ripped from today’s headlines is a speaking activity that also benefits listening comprehension and conversational fluidity.

Prepare a number of short news stories for different students to read. You can use stories directly from a source like:

Depending on the students’ fluency levels, you can give them the original story to read in context, or just prepare a “news brief” for them that’s level-appropriate.

1. Divide the class into teams of four or five students apiece. Each team will read one of the short news stories you’ve prepared.

2. One student on the team will pretend to be a news anchor reporting on the story. Another student can play a field reporter, who will interview the remaining students. The remaining students can play either passers-by (for a “person on the street,” opinion-poll story) or eyewitnesses to an incident (such as a blizzard, a car chase or a fire.)

3. Depending on how much time you’d like to fill with this activity, you can prepare multiple stories for each team. With each new story, students should exchange roles, so that they each have a chance to practice different kinds of speaking.

This activity combines reading, writing (preparing the “news copy” and “interview questions”) and speaking.

Students playing the “people on the street” or “eyewitnesses” will get the opportunity to answer spontaneously, especially if they’re not privy to the reporter’s questions ahead of time.

Students can also learn about using different registers of English in context.

The news anchor and reporter roles will require more formal, neutral English than the casual register of speech used by the interviewees.

The interviewees will also have more opportunities to practice speech that expresses emotion, since they’ll be communicating their opinion on a hot topic—or relaying their reaction to a dramatic event.

VARIATION:

To give your students more writing practice, or to stretch out this activity into multiple lessons, consider assigning your students a writing exercise in which they “manufacture” their own news stories.

These news stories can have a humorous bent. Especially for intermediate and advanced learners, this variation could afford them the opportunity to explore satire using English.

17. Untranslatable?

Language learners tend to be fascinated by foreign words without direct translations.

If you happen to have students in your classroom with different native languages, they’ve almost certainly stumbled across words without direct English translations. You can use your students’ expertise in their own languages to spark conversation in the classroom.

1. Divide the class into small groups of students—preferably, each group of students will represent two or more native languages.

If the students in a group all speak the same native language, no worries—there are still different dialects, regionalisms and variations in individual experiences to drive conversation about each “untranslatable” word and its possible English definition.

2. Ask each student to come up with a small handful of words that they cannot translate directly into English.

3. Students will then take turns presenting to their respective groups, pronouncing each featured word and explaining—to the best of their ability—what it means in English.

4. After the presentation of each word, the other students will have the opportunity to ask questions, to clarify the word’s meaning and usage.

5. Where possible, each student who hears a presentation can also be asked to think of a word in their own language that means the same as the presenter’s “untranslatable” word.

6. Depending on the skill level of your students, they can also participate in open discussion of the featured word and its meaning after the presentation.

This activity encourages students to conceptualize the meanings of words in both their native language and English.

It brings the real-world experiences of each student into the classroom and can help make students less self-conscious. After all, each student has likely struggled to find an English equivalent to a seemingly “untranslatable” word.

This activity can be an ice-breaker for your students, prompting unscripted conversation and even civilized debate.

It’s also a very flexible activity since you could limit it to one new word a day, or use it to fill an entire classroom session.

VARIATION:

In addition to individual words, ask students to come up with “untranslatable” slang or idiomatic expressions from their own languages.

This activity can also be done with the entire class, in a round-robin fashion. Especially if you are teaching a classroom of English students who share the same native language, you can become their student as they work together to teach you “untranslatable” words in their mutual language.

18. Skill Share

esl speaking activities for adults

Everyone has hobbies that they enjoy or activities where they excel—whether it’s music, sports, playing video games, cooking or traveling. This activity combines giving presentations with having conversations about the presentation topic.

1. Ask each student to come up with a hobby or skill they can share with the rest of the class in a short presentation. You can give them several days to prepare ahead of time, making the preparation a homework assignment and saving time in the classroom.

2. If you have a larger class, you can divide your students up into teams to allow each student more time to present in a smaller group setting. You can also pair off your students, so one student will take turns presenting to one other student only.

3. Students will take turns making a short presentation—between 10 and 15 minutes, max—to their respective audience. In their presentation, they should explain their chosen hobby, skill or activity in clear terms that can be easily understood.

4. Within their presentations, students will also give simple, step-by-step instructions, to teach their audience members the target skill. For example:

  • A student who does embroidery would first explain how to choose patterns to follow and where to find supplies such as thread, needles and canvas.
  • Then, the student would list all the steps for completing the project.
  • They would explain the techniques involved, such as using an embroidery hoop, changing thread colors or creating various types of stitches.

5. After each presentation, the student’s audience must ask the presenter at least one relevant question pertaining to the skill or activity in question. The questions should clarify their understanding of the process.

6. When the presentations and “Q & A” sessions are done, students can pair off with other partners or form new teams.

VARIATION:

Audience members can use the information they’ve gleaned from a teammate’s presentation to explain the process they’ve learned to someone in the class who didn’t hear the original presentation.

The original presenter can act as a subject matter expert, prompting their former audience member (as needed) to explain the process more clearly.

After the Speaking Activity

If you run your speaking activity well, the students will often get really involved in it. They may well need to be “debriefed” afterward before they leave the classroom. This helps them get out residual excitement and reinforce the lessons they learned.

Always allow a few minutes of class time to talk about the activity, what they liked about it (or hated), how it made them feel and what they think they’ve learned.

Of course, all of this involves more worthwhile speaking time!

reference : https://www.fluentu.com/blog/educator-english/esl-speaking-activities-for-adults/

UDHIYYAH / QURBAN

Dibuat oleh : Muhammad Zaki syawalludin

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ . اعوذبـالله من الشيطان الر جيم لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منگم

Kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah dzat yang maha Ghafur, Alhamdulillah kita semua khususnya kaum muslimin sudah mendekati hari raya Ied adha atau Ied qurban, semoga kita semua masih bisa di pertemukan dengan hari raya tersebut.

Ikhwatu iman rahimakumullah , sebagaimana yang kita ketahui bahwa Qurban sudah biasa di laksanakan sejak zaman jahiliyah, namun pelaksanan tersebut hanyalah untuk persembahan kepada patung-patung atau berhala berhala. Lalu datang lah Islam melalui wahyu Wahyu yang di turunkan kepada Rasulullah Saw untuk memberi tahu mereka (kaum jahiliyah) bahwa Qurban itu hanyalah bentuk ketaqwaan kepada Allah SWT, bukan untuk di sembahkan kepada patung dan berhala.

Qurban itu sendiri berasal dari kata qoruba yang artinya dekat, dalam kata lain Qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun kata iedul adha itu di ambil dari kata udhiyyah bentuk jamak dari kata duhaha dari duha, itu berkaitan dengan waktu penyembelihan nya yaitu waktu duha.

Orang yang berqurban dinamakan mudhohi dan mustahik sebutan bagi orang yang menerima daging qurban, adapun kata hadyu yaitu sebutan bagi hewan sembelihan yang orang nya sedang melaksanakan haji tamattu, dan mansak itu sebutan bagi apa apa yang di sembelih untuk beribadah kepada Allah SWT. Qurban, udhiyyah dan mansak jika di kaitkan dengan sembelihan mempunyai tujuan yang sama, istilah apapun yang di pergunakan itu merupakan syari’at yang Allah perintahkan kepadaku kaum muslimin, sebagai mana di sebutkan dalam Q.s al-hajj ayat ke 37, disana terdapat perkataan ولكن يناله التقوى منگم (walakiyyana luhuttaqwa minkum) disana sudah jelas bahwa hittob Qurban Allah perintahkan kepada kaum muslimin

Ikhwatu iman rahimakumullah, hewan sembelihan Qurban yaitu dari golongan hewan ternak, seperti domba, kambing, kerbau, sapi, dan unta. Untuk kambing ataupun domba itu cukup untuk 1 mudhohi, untuk kerbau dan sapi cukup untuk 7 mudhohi, dan unta cukup untuk 10 mudhohi. Daging yang di bagikan kepada para mustahik itu akan kembali kepada Allah SWT sebagai bentuk ketaqwaan, sebagai mana dalam QS Al hajj aya ke 37 tadi, ini bisa jadi pengingat bagi kita bahwa berqurban lah dengan diri sendiri (dengan ikhlas, tidak ada paksaan atau rasa gengsi) dan harus menjadi kebanggaan tersendiri di hadapan Allah SWT dengan cara mengurbankan hewan yang terbaik yang sesuai dengan kemampuan kita yang bisa menjadi nilai ketaqwaan di depan Allah SWT.

Ikhwan Fillah rahimakumullah, ada beberapa larangan untuk hewan qurban, sebagai mana di sampaikan dalam salah satu hadist :

لَا يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلَا بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلَا بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلَا بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لَا تُنْقِي

Yang artinya : “Tidak boleh berkurban dengan kambing pincang dan jelas kepincangannya, atau kambing yang buta sebelah dan jelas butanya, atau kambing yang sakit dan jelas sakitnya, atau kurus yang tidak bersumsum (berdaging).”

Apa maksud kambing pincang tersebut? Yaitu kambing yang cacat dari lahir, yang mempunyai kecacatan di kakinya sejak lahir sehingga kakinya panjang sebelah atau bahkan hanya mempunyai 3 kaki atau bahkan tidak punya kaki dari lahir, Namun jika anda sudah membeli hewan qurban yang sehat yang tidak punya kecacatan dalam fisik nya tetapi ketika waktu perjalanan ke tempat menyembelih, hewan tersebut kecalakaan hingga membuat kakinya patah dan menjadi pincang, nah hal ini tidak apa apa, dan masih bisa untuk di qurban kan. •Apa maksud dari kambing yang buta sebelah? Yaitu kambing yang rusak matanya, yang membusuk matanya, atau bahkan tidak mempunyai satu atau kedua bola mata sejak lahir, namun jika hewan itu buta, hanya tidak bisa melihat saja dan kedua bola mata nya masih utuh, maka hewat tsb masih bisa di Qurban kan •Apa maksud dari hewan yang sakit? Yaitu hewan yang sakit dan jika di makan oleh manusia akan berdampak buruk bagi kesehatan.•Apa maksud hewan yang kurus? Yaitu hewan yang seakan akan tidak mempunyai daging sehingga seperti tulang yang di bungkus oleh kulit.

Ikhwatu iman rahimakumullah, ketika kita qurban, sudah pasti dagingnya akan di bagikan. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging qurban? Ada dalam Qur’an surat al-hajj ayat ke 36:

فَاِ ذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَ طْعِمُوا الْقَا نِعَ وَا لْمُعْتَـرَّ ۗ

Dalam ayat tersebut ada tiga untaian kata mustahik qurban, yang pertama ada dalam kata فَكُلُوْا مِنْهَا ini hittob nya kepada mudhohi atau biasa di sebut Qurbani atau orang yang berqurban, ini menunjukkan bahwa mudhohi itu berhak mendapatkan daging qurban dan dari kalimat ini bisa di pastikan bahwa mudhohi/orang yang berqurban itu harus dari kaum muslimin.

Selanjutnya ada kata وَاَ طْعِمُوا الْقَا نِعَ yaitu orang yang malu malu meminta haknya dan وَا لْمُعْتَـرَّ yaitu orang yang dengan terang terangan meminta hak nya. Dari dua kata tersebut tidak di khususkan bagi kaum muslimin saja namun tetap dalam keumuman nya, sebagai mana kaidah ushul Al Amu Yabqo Ala umumi keumuman itu tetap atas keumuman nya. Oleh sebab itu Mutahik/penerima daging qurban tidak di bedakan antara muslim dan Non muslim.

Allah juga berfirman dalam QS Al hajj ayat ke 28

فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَ طْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ

Disini hittob nya kepada الْبَآئِسَ الْفَقِيْـرَ orang yang faqir,miskin,sengsara atau orang yang sangat membutuhkan. Dari ayat ini di jelaskan bahwa orang yang faqir,miskin,sengsara atau orang yang sangat membutuhkan itu di utamakan untuk di beri daging qurban

Ikhwatu iman rahimakumullah, sebagaimana dalam QS Al-hajj ayat ke 37 yang menjelaskan bahwa Qurban itu perintah Allah untuk kaum muslimin. Lalu bagaimana sikap seorang jam’i Qurban/panitia Qurban ketika ada non muslim yang mendaftar kan diri untuk ikut berqurban? Nah ini adalah ladang dakwah kita sebagai kaum muslimin, beri tahu Non muslim tersebut “jika anda bersedia mengikuti Qurban seharusnya anda bersedia untuk masuk kepada agama Islam” apa sebabnya? Yaitu ولكن يناله التقوى منگم karena Qurban adalah perintah bagi orang yang bertaqwa, yaitu kaum muslimin. Namun dalam hal lain ini bisa di manfaatkan sebagai pemelihara hubungan secara sosial, setelah memberitahu non muslim tersebut, lalu terimalah hewan nya dengan catatan tidak termasuk hewan qurban, namun sebagai hewan pemberian, hadiah, atau hibbah. Maka sembelih lah hewan tersebut lalu bagikan lah, atau bisa di pasak untuk ompreng/makanan para jam’i/Panitia Qurban

Sekian tulisan dari penulis, mohon bila terdapat kesalahan, karena kebenaran hanya datang dari Allah dan kesalahan datang dari penulis. Harapan penulis terhadap tulisan nya bisa bermanfaat bagi kita semua.

Aqulu qauli hadza wa astaghfirullah li wa lakum Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo teman-teman, saya akan share perkenalan dan biografi saya.

PERKENALAN DAN BIOGRAFI MUHAMMAD ZAKI SYAWALLUDIN

Hallo teman, perkenalkan nama saya Muhammad Zaki syawalludin panggil saja Zaki, saya lahir di Bandung tanggal 31 Desember 2001 dan saya anak ke 3 dari 3 bersaudara.

Saya sekarang tinggal di kampung cibiana, desa cikalong, kecamatam Cimaung, kabupaten Bandung, Jawa barat Indonesia. Saya lulusan MA Pesantren persatuan Islam 228 Al-fithri

Dan sekarang saya melanjutkan kuliah di STKIP INVADA CIREBON dengan prodi pendidikan bahasa Inggris. Dan sekaligus juga saya belajar di pesantren tahdzibul washiyyah di gumuruh, Bandung.

Hobi saya ada banyak, karena jika hal itu dapat membuat saya senang maka itulah hobi saya . Ya seperti bermusik

Bermain motor klasik

Menaiki gunung atau kata akrabnya muncak juga menjadi salah satu kegiatan yang saya suka

Dan saya adalah seorang barista di kedai Astro kopi

Sekian perkenalan dan biografi dari saya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai